Pro & Kontra Arti Kata "DIRGAHAYU"

“ Dirgahayu Corps Polisi Militer Angkatan Darat Ke 62 “
atau
“ Dirgahayu Corps Polisi Militer Angkatan Darat “

Sebentar lagi atau tepatnya setiap tanggal 22 Juni, kita akan memperingati hari ulang tahun Corps Polisi Militer Angkatan Darat yang ke 62, sebagaimana lazimnya tiap-tiap menjelang hari peringatan ini umbul-umbul dan spanduk-spanduk akan dipasang oleh seluruh satuan jajaran Polisi Militer di seluruh Indonesia.

Yang tidak pernah ketinggalan dan selalu tertulis dalam setiap spanduk dan Banner ataupun Gapura pintu masuk satuan adalah kata: DIRGAHAYU. “Dirgahayu Corps Polisi Militer Angkatan Darat ke 62”, ”atau ada pula yang menulis “Dirgahayu Corps Polisi Militer Angkatan Darat” , lalu dibawah ditulis tanggal lahirnya Corps “22 Juni 1946 – 22 Juni 2008”.

Kalimat manapun yang digunakan sepertinya tidak masalah bagi kita, toh semua kalangan; apakah itu kalangan well educated, instansi pemerintah, media massa baik cetak maupun elektronik, sekolah2, perguruan2 tinggi tidak mempersalahkan variasi dari ke-dua tulisan diatas.

Bila tiba-tiba ada yang mempersalahkan bunyi salah satu dari kalimat diatas mungkin anda sendiri akan heran dan bertanya ”lho kenapa?”

Tapi tahukah anda bahwa sebenarnya salah satu dari kalimat itu memang salah karena mengandung arti yang bertentangan 180 derajat dari maksud ucapan itu sendiri? Kalimat yang salah itu adalah yang berbunyi “Dirgahayu Corps Polisi Militer Angkatan Darat ke 62”.

Mau bukti? mari kita lihat….

Berdasarkan KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA yang dikeluarkan oleh Pusat Bahasa Depdiknas RI , arti dari kata DIRGAHAYU adalah BERUMUR PANJANG atau PANJANGLAH USIANYA atau SEMOGA PANJANG USIANYA dan ditujukan kepada negara atau organisasi yang sedang memperingati hari jadinya.

Jadi bila anda menulis “Dirgahayu Corps Polisi Militer Angkatan Darat ke 62” maka akan mengandung makna ”semoga panjanglah usianya Corps Polisi Militer Angkatan Darat yang ke 62” !!! Ingat HUT ke 62-nya yang panjang, bukan Corps Polisi Militer Angkatan Darat !! lhooo…. kalau 62-nya yang panjang berarti gak ada dong ke 63, ke 64 dst? Dengan kata lain secara tidak langsung dengan menulis itu seolah-olah kita ingin Corps Polisi Militer Angkatan Darat ini berakhir, karena tidak ada perayaan-perayaan berikutnya!

Yang benar adalah cara penulisan ke-dua, karena dengan menulis “Dirgahayu Corps Polisi Militer Angkatan Darat” , maka artinya menjadi “Semoga panjang usia Corps Polisi Militer Angkatan Darat” , baru dibawah dapat dituliskan “22 Juni 1946 – 22 Juni 2008”.

Bila ada peribahasa yang mengatakan bahwa ‘bahasa menunjukkan bangsa’ rasanya dari contoh kasus diatas tidaklah sepenuhnya benar karena mungkin saja dalam setiap bahasapun ada saja penggunaan kata yang difahami dan dimaknai tidak sesuai dengan makna sebenarnya dari kata dalam bahasa itu sendiri.

Satu lagi kata atau istilah yang menurut pendapat saya bernasib sama seperti kata “dirgahayu” adalah kata dari bahasa Arab “khatam” yang katanya punya arti sebagai “terakhir”. Ada banyak istilah yang menggunakan kata ini seperti misalnya dalam kepustakaan Islam Khalifah Ummar ra dikenal sebagai “khatamul muhajirin” atau Khalifah Ali ra dikenal pula sebagai “khatamul Aulia” atau seseorang yang ahli dibidang syair dikatakan sebagai “khatamus syuara” dan apabila anak-anak kita menamatkan al-Qur’an dikatakan sebagai telah “khatam al-Qur’an”.

Bila setelah Ummar ra melakukan hijrah masih banyak pengikut Islam lainnya yang juga berhijrah, bila setelah Ali ra masih bermunculan para wali lain hingga ditanah airpun ada sembilan wali yang dikenal sebagai wali songo, demikian pula bila seseorang dikatakan sebagai khatamus syuara toh para penyair baru masih datang silih berganti, demikian pula bila anak-anak kita telah meng-khatamkan al-Qur’an mereka masih akan terus dan terus membaca dan melafalkan al-Qur’an, maka makna yang saya tangkap dari kata “khatam” ini adalah terakhir dalam bentuk kesempurnaan bukan terakhir dalam segalanya! Lha kalau terakhir dalam bentuk segalanya mestinya tidak ada lagi dong orang yang berhijrah setelah Ummar ra melakukan hijrah, tidak akan pernah ada lagi seorang wali-pun sepeninggal Khalifah Ali ra, atau tak akan pernah pula kita membaca lagi al-Qur’an karena sebelumnya telah khatam!

Tapi aneh, bila hal ini menyangkut pada junjunan alam Muhammad saw yang adalah ”khataman nabiyyin” maka pemahaman seperti yang berlaku diatas akan dianggap tidak benar !!

Aneh tapi nyata! Wallahu’alam.

Explore posts in the same categories: Artikel Kabagdik Puspomad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: